Slider

Masa Depan Mall pada era New Normal

Masa Depan Mall pada era New Normal

Mardiani ST., Dr. Matius Jusuf, M.M., MBA dan Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Ec

Mahasiswa dan Dosen Magister Manajemen Properti dan Penilaian, Pasca Sarjana USU

Di mulai dari kota Wuhan, Cina hingga sampai ke Indonesia pada awal maret 2020, Pandemi COVID-19 membuat aktifitas ekonomi manusia menurun signifikan, pertumbuhan ekonomi dunia telah menjadi minus. Maret hingga Juni  untuk beraktifitas ke luar rumah harus ditunda dalam aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)  untuk menghindari  penularan COVID-19 yang sangat mudah dan cepat.  Pemerintah menganjurkan untuk tetap bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi, seperti internet, Laptop dan handphone (Hp). Hingga saat tulisan ini di turunkan per-22 agustus 2020, pertumbuhan penderita covid 19 perhari berjumlah 2 orang menjadi 2090 orang perhari, meskipun yang sembuh juga telah meningkat dari tingkat kesembuhan  5% menjadi 69%, dan tingkat kematian semakin menurun menjadi 4% (sumber: Kompas).  

Kondisi PSBB tersebut mengakibatkan persoalan baru,  tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor formal dan informal terdampak pada kebijakan pemerintah tersebut, terutama sektor informal. Sektor informal adalah sector  ekonomi yang terdiri atas unit usaha berskala kecil, yang memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa, dengan tujuan utama menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan memperoleh pendapatan bagi para pelakunya, sektor di mana masyarakat harus melakukan aktivitas ekonomi  di luar rumah, misalnya pedagang, kuli bangunan, ojek online, assisten rumah tangga, petani, peternak, buruh harian, bengkel pinggir jalan, supir angkutan umum, tukang becak,dst.  Sektor informal ini mencapai 75,9% dari jumlah penduduk (sumber: hasil penelitian hidayat, wikipedia). Tenaga kerja formal dimana kegiatan operasinya harus bekerja di luar rumah seperti karyawan bank, buruh pabrik, karyawan restoran, hotel, mall,  dsbnya.

Kondisi bekerja tapi dalam pembatasan pandemi COVID-19 ini ternyata telah mampu  menurunkan pertumbuhan ekonomi kita dari 5,2% pada tahun 2019 menjadi  -5,32% (Bank Indonesia, pertengahan juni 2020). Tingkat Pengangguran dan kemiskinan  pun meningkat tajam. Padahal sampai hari ini vaksin COVID-19 belum tersedia. Bila kita tetap di terapkan pembatasan sosial, maka perekonomian akan semakin memburuk.  Sampai kapankah situasi ini akan berlangsung? bagaimana solusinya agar tetap selamat dari COVID-19 tetapi tetap bisa produktif  dalam bekerja? Oleh karena Itulah diperlukan adanya tatanan bekerja yang baru (New Normal), sembari menunggu para ahli bekerja keras mengembangkan dan menemukan vaksin untuk pengendalian pandemi COVID-19.

Kebiasaan dan perilaku yang baru (New Normal)  berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, inilah yang disebut sebagai New Normal. New Normal adalah rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, menjaga jarak aman dan menghindari kerumunan. Bagaimana dengan Mall yang membutuhkan tingkat pengunjung yang tinggi? apakah penjualannya akan menurun, stabil atau justru meningkat sebelum COVID-19, saat dan setelah New Normal?

Awal Juni 2020 mall diijinkan dibuka dengan konsep new normal, yaitu melakukan aktivitas ekonomi seperti biasanya dengan kondisi virus mematikan  masih ada di sekitar kita. Aktivitas yang terjadi di mall pada kondisi  New Normal untuk menghindari penularan COVID-19 antara lain: (a)Mengecek suhu tubuh pengunjung, yang sakit dianjurkan istirahat di rumah dahulu. (b)Ada petugas yang memastikan jumlah pengunjung yang masuk mall, maksimal 50%  untuk mengurangi kerumunan (c)Disinfectan diterapkan pada alas kaki, di pintu masuk sebelum pengunjung masuk ke mall. (d)Menyediakan automatic hand sanitizer di beberapa akses dan juga area yang menjadi area umum, seperti pintu entrance mall dst. (e)Mewajibakan semua karyawan mall, karyawan tenant dan pengunjung memakai masker (f)Menambah washtafel/tempat cuci tangan di beberapa lokasi (g)Mengatur jarak dan memberikan tanda agar konsumen mengikuti tata cara social distancing bilamana ada antrean baik di lift/elevator maupun di excalator dan di area lainnya. (g)Mengatur tempat duduk khususnya di area food court, Para tenant F&B juga diminta melakukan re-arrange peletakan meja dan kursi sehingga ada jarak. (h)Disinfectant diletakkan di area-area seperti area entrance, toilet , excalator, lift dan area lainnya. (i)Menempelkan banyak himbauan di setiap tempat strategis untuk pemakaian masker dan social distanging kepada pengunjung mall, selain untuk menimbulkan rasa aman, juga meningkatkan kesadaran. (j)Menyediakan ruang isolasi jika ditemukan pengunjung yang mendadak sakit. Protabnya jika ada yang sakit langsung dibawa ke ruang isolasi, kalau ada indikasi Covid-19 mall berkoordinasi dengan rumah sakit terdekat untuk penanganan selanjutnya. (k)Lift sudah menggunakan sensor tanpa sentuhan dan di dalam lift sudah ada tanda sehingga tidak bisa berdekatan tetapi tetap harus berjarak. Apakah penerapan New Normal di Mall ini mempengaruhi jumlah pengunjung yang datang ke Mall? Dengan sistem random sampling ketika dilakukan survey tingkat pengunjung mall wilayah kota Medan, ditemukan bahwa tingkat pengunjung telah semakin lebih baik, per-agustus 2020.

IMG 20200826 WA00181

Sebenarnya sebelum New Normal diperlakukan penjualan mall sudah mengalami penurunan dengan adanya online shopping atau gempuran e-commerce. Untungnya, beberapa Mall cepat beradaptasi menjadi bukan sekedar tempat shopping tetapi juga didesain menjadi  tempat leisure, entertainment, dan culinary destination, berkunjung ke mall bukan lagi hanya sekedar membeli barang tetapi juga bisa sebagai tempat menghilangkan kepenatan dalam bekerja (hang-outs), tempat bersantai dengan keluarga dan teman,  tempat diskusi, tempat berkumpul,  dsbnya.  Saat ini pengelola mall dituntut lebih kreatif untuk mampu menarik pengunjung lewat kegiatan menarik yang sesuai dengan keinginan pengunjung yang disasar. Pengelola harus mengeluarkan biaya ekstra untuk  menarik pengunjung agar datang. Ibaratnya menarik uang harus dengan terlebih dahulu menabur uang. Pengelola harus mengeluarkan uang ekstra banyak agar pengunjung berdatangan dan mengeluarkan banyak uang di  mall tsb. Memberikan experience  yang menarik disetiap langkah  pengunjung dinilai jadi kunci agar mall bisa bertahan hidup. Jika dahulu pengunjung tidak boleh foto di area mall, maka sekarang pihak mall gencar memberikan dekorasi menarik agar difoto dan nantinya di-posting pengunjung ke media sosialnya. Hal ini akan menjadi promosi gratis bagi pengelola Mall.  Mall yang tidak mau mengubah kebiasaan lamanya, yang  tidak mau beradaptasi  pada akhirnya mati.  

Nah bagaimana jumlah pengunjung setelah merebaknya covid 19? ternyata terjadi penurunan drastis hingga mencapai 10%,  sampai  hari akhir Juni 2020.  Belum adanya kepastian vaksin Covid-19 ditemukan mempengaruhi jumlah pengunjung Mall. Kampanye kebersihan Mall anti Covid 19 dan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan akan menjadi faktor krusial bagi  pengunjung untuk mengunjungi sebuah Mall. Isu safety first menjadi isu yang sangat krusial terhadap tingkat kedatangan ke Mall. Sekarang Mall memasuki fase New normal, tetapi tingkat pengunjung ke mall sudah berada di atas jumlah saat fase “Work From Home” meskipun masih belum sebanyak saat fase “normal” sebelum tahun 2020.  Mengapa?  Karena Mall masih menjadi pilihan bagi beberapa konsumen di sebabkan terdapatnya tingkat kepuasan yang lebih baik bila berbelanja di Mall/toko (belanja offline) dibandingkan dengan online.  Hal ini di sebabkan karena konsumen langsung bisa menyentuh, memilih-milih dan mencoba barang tersebut secara langsung (tidak menduga-duga, memperkirakan) disamping itu konsumen juga menyukai pelayanan pramuniaga yang ramah tamah.

Walaupun mall telah memasuki fase new normal, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk mencapai pertumbuhan profit yang ideal. Diperkirakan sebelum masa new normal  jumlah  pengunjung akan berada pada posisi maksimal 50% dibandingkan sebelum ada Covid-19. Untuk daerah – daerah seperti DKI Jakarta dimana terinformasikan berbagai media bahwa jumlah  Mall sudah terlalu banyak maka harus di kaji ulang: (1) Apakah Bangunan Mall tersebut  masih layak dipergunakan sebagai Mall hingga berapa tahun lagi? (2)Apakah Mall ini memiliki pesaing dilokasi yang sama? (3)Apakah kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan Mall ini? (4)Jika memiliki pesaing berapa banyak yang mungkin pengunjung terserap di Mall ini?  (4) Apabila Mall sudah tidak optimal maka perlu dilakukan pengalihan fungsi bangunan kepada usaha lain yang lebih optimum untuk mengatasi dampak kerugian di masa akan datang.

Tantangan usaha Mall akan semakin penuh tekanan dimasa yang akan datang dibandingkan masa sebelum covid 19, oleh sebab itu dibutuhkan  manajemen yang tangguh dan cerdas serta tim marketing yang lebih aktif,  kreatif dan smart misalnya dengan menawarkan banyak discount barang-barang, harus aktif  menawarkan event-event khusus dan pribadi door to door kepada pelanggan potensial yang dapat di sediakan di mall tersebut, dan tetap jangan lupa untuk pertama sekali harus mampu  meyakinkan calon pengunjung bahwa Mall telah tersanitasi dengan baik sehingga aman dan nyaman untuk dikunjungi. Bagaimana halnya dengan bisnis Mall di kota Medan? Mall di kota Medan berjumlah 29 unit (sumber: mall-plaza-ritel, blogspot), ada yang masih muda tetapi sudah mulai mati, ada yang sudah mulai menua tetapi tetap hidup, dan ada beberapa yang baru lahir tetapi justru ramai.